
Batang Hari (Man 4 Batanghari) selasa , 22/10/2024, MAN 4 Batanghari melaksanakan upacara peringatan Hari Santri Nasional ke-10 dengan mengusung tema " Menyambung Juang , Merengkuh Masa Depan .

Pelaksanaan upacara Hari Santri menggabungkan 5 lembaga yaitu MAN 4 Batang Hari, Pondok Pesantren Nurul Jadid al-islami, MIS Nurul Jadid, MTsN 6 Batang Hari, TK dan KB Nurul Jadid di Halaman MAN 4 Batang Hari . Ustadz Kyai Imam Suryani sebagai pengasuh pondok pesantren Nurul Jadid ini selaku pembina upacara dalam amanatnya menyampaikan Hari Santri adalah hari untuk memperingati peran besar para Kyai dan Santri dalam berjuang melawan penjajah dari bangsa asing. Menurut kyai Imam Suryani santri-santri menjadi yang terdepan melakukan jihad melawan penjajah dan memperjuangkan kemerdekaan indonesia, dan saat ini siswa atau santri yang menjadi penerusnya .

Sementara Kepala MAN 4 Batang Hari bapak Dr.Idham Kholid,S.Pd.M,Pd.I yang juga sebagai ketua kelompok kerja Madrasah Aliyah Kabupaten Batang Hari ini mengatakan bahwa sangat bangga dan bersyukur MAN 4 Batang Hari bisa ikut serta menjadi tuan rumah upacara hari santri Nasional tahun 2024 ini. Dr Idham Kholid juga mengatakan bahwa Membahas masalah Santri dan Kemerdekaan, bagaikan membahas air dan sungai, dua-duanya tidak bisa dipisahkan. Santri bagaikan sungai dari air yang mengalir untuk merdeka menuju samudra.Â
Membaca tentang Kemerdekaan, bukan sebuah kata yang hanya disematkan pada 17 Agustus 1945, karena Merdeka memiliki 4 waktu perjuangan,yakni perjuangan untuk Merdeka, perjuangan ketika Proklamasi Kemerdekaan, perjuangan mempertahankan Kemerdekaan, dan perjuangan mengisi Kemerdekaan. Keempat perjuangan tersebut tidak bisa dipisahkan dari para pejuang di Indonesia termasuk para Kyai dan Santri.

Pada hakikatnya santri merupakan ruh negara Indonesia itu sendiri. Dan pada aktivitasnya santri merupakan sekelompok orang yang menuntut ilmu agama kepada seorang kiai, baik dengan cara mondok (mukim), atau nonmukim (kalong).Â
Kehidupan para santri sejak sebelum Kemerdekaan hingga setelah Kemerdekaan, selalu bergesekan dengan sosial dan Antropologi Indonesia. Salah satunya mengalami penjajahan dan melawan penjajah.Â
Jika dapat dihitung dan didata secara rinci, mungkin sudah berjuta-juta para santri dan kiai berjuang bagi bangsa Indonesia, karena  sebelum kemerdekaan kita bisa mengingat sejarah perlawanan. Ada perlawanan santri di Sumatera Barat (1821-1828), Perang Jawa (1825-1830), Perlawanan di Barat Laut Jawa pada 1840 dan 1880, serta Perang Aceh pada 1873-1903. Sementara di Jawa Barat, ada Perang Kedongdong (1808-1819). Perang yang terjadi di Cirebon ini melibatkan ribuan santri dalam pertempurannya.
Perjuangan santri dalam menyusun kemerdekaan sangat berperan aktif, salah satu santri yang juga putra dari KH. Hasyim Asy'ari, yakni KH Wahid Hasyim, ikut andil dalam pembentukan BPUPKI ( Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan ). DF
|
128x
Dibaca |
Untuk Wilayah Kab. Batang Hari dan Sekitarnya
Memuat tanggal...